Detail Post

29 Tahun Ratifikasi Konvensi Ramsar

19 Oktober 2020 / Admin / , , / 83 Kali Dilihat / 0 Komentar

29 Tahun Ratifikasi Konvensi Ramsar Tepat pada tanggal 19 Oktober 1991, atau hampir 30 tahun yang lalu, Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Ramsar dengan mengesahkan Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance especially as Waterfowl Habitat. Konvensi Ramsar merupakan konvensi dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diselenggarakan pada tanggal 2 Februari 1971 di Ramsar, Iran. Konvensi Ramsar adalah perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Nama resminya adalah The Convention on Wetlands of International Importance especially as Waterfowl Habitat. Titik paling pentingnya adalah lahan basah sebagai habitat burung air yang perlu dilindungi. Pada konvensi tersebut, ditetapkan Situs Ramsar (lokasi lahan basah yang dilindungi dengan Konvensi Ramsar) sejumlah 1.889 lokasi dengan luas total 1.854.370 km2. Setiap negara yang tergabung dalam Konvensi Ramsar, mendaftarkan sekurang-kurangnya satu kawasan lahan basah di negaranya yang memiliki arti penting secara internasional untuk masuk ke dalam Daftar Ramsar. Di Indonesia, ada beberapa kawasan yang ditetapkan termasuk sebagai situs Ramsar yaitu; • Suaka Margasatwa Pulau Rambut di Kepulauan Seribu, • Taman Nasional Berbak di Jambi, • Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan, • Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan • Taman Nasional Wasur di Papua • Rawa Aopa Watumohae di Kendari, Sulawesi Tenggara; • Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah Konvensi Ramsar mendefinisikan lahan basah sebagai daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan: alami atau buatan; tetap atau sementara; dengan air tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari 6 meter waktu surut. Selain itu, masih menurut Konvensi Ramsar, lahan basah dapat juga mencakup wilayah riparian (tepian sungai) dan pesisir yang berdekatan dengan suatu lahan basah, pulau-pulau atau bagian laut yang dalamnya lebih dari 6 meter yang terlingkupi oleh lahan basah. Lahan basah merupakan lahan yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Keanekaragaman hayati di lahan basah dapat bervariasi, mulai dari keanekaragaman tumbuhan ataupun satwanya. Keanekaragaman vegetasinya misalnya vegetasi hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau, paya rumput dan lain-lainnya. Sedangkan keanekaragaman satwanya dapat berupa satwa khas lahan basah seperti buaya, kodok, kura-kura, biawak ular, aneka jenis burung dan ikan dan juga dapat berupa satwa mamalia besar seperti harimau ataupun gajah. Di sisi lain, banyak lahan basah yang merupakan lahan subur yang kemudian mendorong masyarakat untuk melakukan konversi lahan basah menjadi lahan pertanian atau yang lainnya. Mengingat pentingnya lahan basah sebagai habitat flora-fauna, maka perlu dilakukan perlindungan agar lahan basah dapat lestari. Sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Ramsar, maka Indonesia berkewajiban tidak hanya melakukan perlindungan terhadap lokasi lahan basah yang terdaftar dalam Situs Ramsar, namun juga membangun dan melaksanakan rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan dan memanfaatkan lahan basah di wilayahnya secara bijaksana. Lahan Basah di Daerah Istimewa Yogyakarta Di Daerah Istimewa Yogyakarta juga terdapat Kawasan yang termasuk lahan basah, meskipun tidak termasuk dalam Situs Ramsar. Contohnya yaitu Kawasan hutan bakau di Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul dan hutan bakau di Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Hutan bakau merupakan hutan di tepi pantai yang berada di kawasan pasang surut. Hutan bakau sering disebut juga hutan mangrove, merupakan komunitas tumbuhan pantai yang kontinyu sesuai dengan toleransi terhadap salinitas. Kedua hutan bakau yang ada di DIY tersebut termasuk ekosistem buatan. Beberapa vegatasi yang terdapat di hutan bakau baik Baros ataupun Pasir Mendit yaitu; bogem (Bruguiera gymnorhiza), tancang (Rhizopora apiculata), nipah (Nypha fruticans). Semak yang dominan yaitu jenu (Derris trifoliata), beluntas (Pluchea indica) dan jeruju (Acanthus illicifolius).


Post Terkait


Tinggalkan Komentar