Detail Post

Dampak Perubahan Iklim terhadap Keanekaragaman Hayati

05 April 2017 / Admin / , , , , / 262 Kali Dilihat / 0 Komentar

Dampak Perubahan Iklim terhadap Keanekaragaman Hayati

 

Kenaikan suhu permukaan bumi, melelehnya salju di kutub utara dan kenaikan permukaan air laut merupakan beberapa gambaran yang terjadi sebagai dampak pemanasan global. Namun tidak hanya itu, perubahan iklim akibat dari pemanasan global, yang terjadi dengan perlahan-lahan namun pasti, juga membawa dampak yang sangat besar bagi keanekaragaman hayati, mulai dari tingkatan spesies sampai ekosistem. Pada akhirnya kehidupan manusia-pun akan terkena imbas dari perubahan iklim tersebut.

Beberapa dampak langsung terjadinya perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati, diantaraya

1) Spesies range (cakupan jenis)

Masing-masing spesies memiliki rentang suhu tertentu dimana spesies tersebut mampu beradaptasi dan bertahan hidup. Kenaikan suhu bumi akan membuat beberapa jenis spesies berada diluar batas toleransi suhu maksimumnya sehingga tidak mampu bertahan dan kemudian menjadi rentan terhadap kepunahan. Menurut  International Union for Conservation Nature (IUCN), lautan merupakan bagian planet yang paling banyak menanggung akibat dari pemanasan global. Meskipun sejak 1970-an, perairan di seluruh dunia telah memainkan peranan penting dalam melawan pemanasan global dengan menyerap sekitar 93% karbondioksida yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Terumbu Karang merupakan spesies yang memiliki toleransi yang rendah terhadap kenaikan suhu air laut. Kenaikan suhu air laut menyebabkan bleaching pada terumbu karang, atau penurunan pigmen klorofil pada jaringan endodermis karang. Hal ini lama-lama akan menyebabkan alga dalam terumbu karang mati sehingga yang tersisa hanya cangkang karang berwarna putih dari zat kapur. Sebagai contoh, pada awal tahun 2016 saja, lebih dari 90% karang Great Barrier Reef di Australia telah mati akibat bleaching. Terumbu karang merupakan habitat dari sekitar 25% spesies laut, kepunahannya akan berakibat pada punahnya spesies-spesies laut yang lain yang pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan rantai ekosistem.

Terumbu Karang

Gambar 1. Terumbu karang

2) Perubahan fenologi

Perubahan iklim menyebabkan pergeseran dalam siklus reproduksi dan pertumbuhan organisme. Pada tumbuhan misalnya, masa perbungaan dipengaruhi oleh suhu tertentu. Pemanasan global dapat membuat tumbuhan-tumbuhan tertentu berbunga lebih cepat, sementara serangga-serangga pembantu penyerbukan belum siap sehingga siklus reproduksinya terganggu.

3) Perubahan interaksi antar spesies

Perubahan iklim dapat mengakibatkan terjadinya perubahan interaksi antar spesies sehingga memiliki konsekuensi yang sangat penting bagi stabilitas dan fungsi ekosistem, dimana ekosistem tidak lagi berfungsi ideal. Pemanasan iklim dengan cepat mengubah waktu dan tingkat bunga pada tumbuhan serta migrasi pada hewan yang akan mengganggu interaksi antar spesies.

4) Laju kepunahan

Perubahan iklim mempercepat laju kepunahan beberapa jenis spesies, misalnya spesies yang berada di ujung rantai makanan seperti karnivora, spesies lokal endemik dan spesies migran.

Penyu Hijau (Chelonia mydas) merupakan spesies yang sangat rentan terhadap perubahan iklim karena karakteristik hidupnya dipengaruhi oleh suhu. Penyu Hijau juga memiliki pertumbuhan yang sangat lamban sehingga rentan terhadap ancaman lingkungan. Menurut IUCN Redlist, Penyu Hijau berstatus Endangered (En) atau terancam punah.

5) Penyusutan keragaman sumber daya genetik

Perubahan iklim dapat menyebabkan kemarau yang berkepanjangan, ataupun sebaliknya curah hujan yang terlalu tinggi. Hal-hal tersebut mempunyai dampak yang besar terhadap lingkungan, misalnya kebakaran hutan atau banjir menjadi lebih sering terjadi.

Bencana alam dapat mengakibatkan berkurangnya populasi dan keragaman spesies, spesies endemik terancam punah dan juga hilangnya habitat satwa liar. Apabila terlanjur terjadi kerusakan habitat, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat recovery atau terjadi suksesi secara alami. Beberapa varian dalam spesies dengan gen tertentu mungkin lebih tahan terhadap perubahan lingkungan oleh perubahan iklim sementara varian dengan gen yang berbeda lebih rentan sehingga lebih rentan punah. Apabila terjadi kepunahan, maka jenis-jenis yang sudah terlanjur punah-pun akan sangat sulit untuk dikembalikan keberadaannya.

Perubahan iklim mempengaruhi pola musim yang berdampak besar terhadap sistem pertanian, termasuk di Indonesia. Penanaman tanaman-tanaman pangan seperti padi, palawija ataupun sayur-mayur masih sangat bergantung pada musim. Kemarau yang terlalu panjang atau hujan yang turun terus menerus sepanjang tahun tentu dapat mengakibatkan gagal panen yang pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan dan ketahanan pangan manusia.

Bagaimana kita dapat menghadapi perubahan iklim?

Jawabannya mudah: Pada dasarnya perubahan iklim merupakan suatu keniscayaan, namun kita dapat memperlambat lajunya. Kita perlu menyadari bahwa bumi ini bukan milik generasi kita saja, seperti kata pepatah, "Alam ini bukanlah warisan dari nenek moyang, tetapi pinjaman dari anak cucu kita." Sesuatu yang dipinjam, hendaknya dikembalikan lagi secara utuh, tidak berkurang jumlah atau kualitasnya. Buatlah bahwa bumi yang kita tinggali ini tetap nyaman bagi anak cucu kita nanti; 1) Manfaatkanlah sumberdaya alam termasuk bahan bakar fosil dan sumberdaya air yang ada dengan bijak, seperlunya dan tidak boros; 2) Lakukanlah budidaya yang ramah lingkungan; 3) Cintailah alam dengan merawat dan tidak merusaknya.

 

Anti-BLH

 



Post Terkait

Tokek Rumah

Tokek Rumah...

Tokek rumah (Gekko...

19 Juni 2017 / 0

Katak Tegalan

Katak Tegalan...

Katak tegalan (Fejervarya...

18 Juni 2017 / 0


Tinggalkan Komentar