Detail Post

Hanami, Merti Bumi Warga Pecinta Sakura

16 November 2016 / Admin / , , , / 710 Kali Dilihat / 0 Komentar

Hanami, Merti Bumi Warga Pecinta Sakura

 

            Saat udara musim semi mulai menghangat di bulan April, masyarakat Jepang bersiap-siap merayakan festival kebanggaan yang sudah menjadi tradisi mereka dari generasi ke generasi: Hanami. Hanami adalah festival yang ditunggu-tunggu seluruh lapisan masyarakat; kaya, miskin, muda, tua, anak sekolah, kaum pekerja, ibu rumah tangga, bahkan turis mancanegara.

            Sebagai tumbuhan sub-tropis dengan nama botani Prunus serrulata Lindl, pohon sakura, atau dalam bahasa Inggris disebut cherry tree, akan menggugurkan seluruh daunnya pada musim gugur. Kuncup-kuncup bunga pohon sakura baru akan muncul pada awal musim semi, sekitar akhir bulan Maret dan kemudian akan mekar selama kurang lebih dua minggu saat udara musim semi mulai hangat pada bulan April-Mei. Selanjutnya mahkota-mahkota bunga sakura akan mulai rontok berguguran. Proses kerontokannya seringkali dipercepat oleh hujan atau angin hingga tinggal menyisakan kuncup-kuncup daun hijau di  batang pohonnya, yang umumnya baru muncul setelah bunga-bunga selesai mekar.

            Durasinya yang tidak terlalu panjang inilah yang membuat mekarnya bunga sakura menjadi saat-saat yang ditunggu-tunggu. Masyarakat Jepang merayakan mekarnya sakura dengan berpiknik bersama-sama di bawah pohon sakura. Di setiap taman kota pohon sakura pada umumnya ditanam dalam jumlah yang banyak dalam suatu hamparan yang luas; sedangkan di tepi-tepi jalan raya ditanam secara berderet, sehingga mekarnya bunga secara serentak menciptakan pemandangan yang sangat indah dan dramatis. Perayaan inilah disebut dengan Ohanami atau Hanami (Hanami = melihat mekarnya sakura).

            Hanami adalah semacam "Merti Bumi" bagi para pecinta sakura. Secara tidak langsung, Hanami memberi kontribusi bagi pelestarian sakura. Siapapun dapat ikut merayakan festival tradisi masyarakat Jepang ini. Pada saat bunga-bunga sakura mulai mekar, berbagai situs internet menyediakan informasi yang cukup lengkap mengenai Hanami; diantaranya informasi tentang Hanami spots, tempat-tempat terbaik untuk menikmati keindahan sakura yang dilengkapi dengan jumlah pohon sakura di lokasi tersebut; persentase mekarnya bunga, dan; tentu saja akses atau sarana transportasi menuju lokasi Hanami yang dapat digunakan. Contohnya; Shinjuku Gyoen National Park, sebuah Taman Nasional di tengah Kota Metropolitan Tokyo memiliki sekitar 1500 batang pohon sakura diantara 20.000 tanaman koleksinya. Taman Nasional ini dapat dicapai pengunjung dengan lima menit jalan kaki dari Stasiun Shinjuku Gyoen (untuk kereta Marunouchi) atau Stasiun Sendagaya (untuk kereta JR).

            Hanami spots yang lain di wilayah Tokyo diantaranya; Ueno Park dengan 1000 batang pohon sakura koleksinya yang ditanam mengitari Shinobazu Pond; Yoyogi Park memiliki 600 batang pohon sakura; Inokashira Park memiliki 1000 batang pohon sakura yang mengitari kolam, tempat pengunjung dapat menikmati pemandangan  sambil naik perahu angsa;    kemudian ada juga Koganei Park yang memiliki 1700 batang pohon sakura dan taman ini merupakan taman kota terluas kedua di Tokyo, serta masih banyak lagi Hanami spots lainnya yang dapat dinikmati. Demikian pula dengan tempat-tempat lain di seantero Jepang, masing-masing memiliki Hanami spots unggulan untuk menikmati indahnya sakura mekar. Selain di taman-taman, Pohon Sakura banyak ditanam untuk menghiasi tepian jalan. Saat bunga-bunganya mekar, di hari libur jalanan berhias Pohon Sakura atau yang biasa disebut Sakura Dori atau Cherry Street ini, akan ditutup untuk kendaraan beroda empat dan bermotor atau semacam “car free day”. Dengan demikian, masyarakat atau pengunjung dapat berjalan kaki dan berfoto dengan tenang di bawah tajuk pohon-pohon yang berderet.

            Pohon Sakura juga banyak ditanam di tepian-tepian sungai. Contohnya di sepanjang Sungai Meguro, Tokyo; terdapat sekitar 800 jenis pohon Sakura yang ditanam berderet. Pada saat mekar secara bersama-sama, bunga-bunga dari pepohonan yang ditanam berderet tersebut menciptakan pemandangan yang luar biasa indah.

Sebagai bangsa yang dikenal penuh tata karma dan sopan-santun, masyarakat Jepang menerapkan semacam “etika merayakan Hanami”, yang merupakan peraturan tidak tertulis namun sangat dipatuhi, yaitu;

1) Membawa makanan dan minuman sendiri. Pengunjung yang merayakan berombongan, dengan keluarga, teman atau yang lainnya biasanya saling berbagi bekal yang dibawanya. Taman-taman di Jepang tidak mengenal “pedagang kaki lima”, fasilitas restoran didalam tamanpun biasanya sangat dibatasi. Jika tidak membawa dari rumah, pengunjung dapat membeli keperluannya di fasilitas umum sebelum masuk taman.

2) Bawa kembali sampah anda. Mengingat padatnya pengunjung yang ingin menikmati sakura, fasilitas tempat pembuangan sampah biasanya tidak akan cukup untuk menampung semua sampah. Pengunjung yang bijak diharapkan membawa pulang kembali sampahnya untuk dibuang di fasilitas pembuangan di luar taman.

3) Lepas sepatu anda saat melintasi terpal penanda yang telah dipasang oleh orang lain. Sebagian pengunjung biasanya akan memasang terpal (untuk tempat duduknya saat menikmati sakura) seawal mungkin jika khawatir tidak mendapat tempat untuk menikmati Sakura di taman. Terpal yang biasanya berwarna biru ini harus diperlakukan layaknya “lantai dalam ruangan” sehingga sepatu harus dilepas, saat anda terpaksa melintasinya

4) Bersenang-senanglah! Jika zaman dahulu keluarga kaisar, para samurai dan bangsawan merayakan Hanami dengan duduk tegap sambil mendengarkan puisi-puisi tentang keindahan sakura yang digubah oleh penyair kerajaan, maka di masa sekarang ini Hanami adalah festival rakyat untuk merayakan datangnya musim semi. Awal musim semi di Jepang berarti awal tahun ajaran baru, teman-teman sekolah baru, kolega-kolega baru atau hanya sekedar festival dan acara piknik untuk bergembira bersama keluarga dan teman-teman.

            Saat-saat mekarnya bunga sakura ini, tidak hanya ditunggu-tunggu oleh masyarakat Jepang sendiri. Lonjakan kunjungan turis asing ke Jepang pada umumnya memilih moment mekarnya bunga sakura sekitar bulan April. Diperkirakan, lebih dari satu juta turis berkunjung ke Jepang untuk melihat mekarnya sakura pada bulan April setiap tahun. Seolah, kunjungan wisatawan ke Jepang belum lengkap jika belum berfoto dengan sakura.

            Pohon sakura sendiri memiliki banyak varietas, saat ini terdapat lebih dari 100 varietas pohon sakura, baik yang tumbuh secara alami ataupun yang telah dibudidayakan di Jepang. Dilihat dari potensi sumberdaya alamnya, sebenarnya Jepang dapat dikatakan miskin sumberdaya alam. Negara kepulauan dengan 3.000 pulau dan luas sekitar 370.000 km², merupakan habitat bagi sekitar 5.600 spesies tumbuhan. Sementara Indonesia, yang juga merupakan negara kepulauan dengan 17.000 pulau dan  luas 7,6 juta km² merupakan negara megabiodiversity nomor dua di dunia setelah Brazil. Diperkirakan, sekitar 25% spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia, terdapat di Indonesia. Jumlah ini kira-kira setara dengan sekitar 20.000 spesies. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 8000 spesies yang telah teridentifikasi.

            Beberapa spesies pohon berbunga Indonesia tidak kalah keindahannya jika dibandingkan dengan bunga sakura dari Jepang, diantaranya:

1) Bungur, atau Logerstroemia speciosa merupakan perdu atau pohon kecil yang dapat tumbuh dengan ketinggian mencapai 20 m dengan bunga berwarna ungu. Tumbuhan ini asli dari Asia Tenggara, India dan Bangladesh. Dengan bunganya yang bergerombol dan cerah, pohon bungur dapat digunakan sebagai penghias pekarangan dan tepi jalan.

2) Flamboyan, atau Delonix regia. Flamboyan berasal dari Madagaskar, Afrika, namun telah lama diintroduksi dan berkembang di Indonesia. Habitusnya berupa pohon besar dengan kanopi berbentuk payung. Bunga-bunganya berwarna merah cerah dan sangat indah saat mekar.

3) Angsana, atau Sonokembang atau Pterocarpus indicus. Sering juga disebut pohon raksasa rimba karena tingginya yang dapat mencapai hingga 40 m. Pohon angsana sebenarnya adalah penghasil kayu yang berkualitas cukup baik dan mahal harganya. Namun, angsana juga sering ditanam sebagai pohon peneduh. Bunganya berwarna kuning cerah,  mirip dengan bunga Johar (Cassia siamea). Harga kayunya yang cukup mahal membuat angsana banyak dieksploitasi di masa lalu hingga saat ini keberadaannya di alam sudah semakin jarang. Dalam IUCN Red List, Pterocarpus indicus ini masuk kategori Vulnerable (Vu) atau Rentan.

            Selain itu, masih banyak lagi spesies-spesies bunga yang sangat potensial untuk dikembangkan. Bukan tidak mungkin, jika di masa yang akan datang Indonesia mengembangkan spesies-spesies tersebut sebagai salah satu sumber devisa. Selama ini fokus pembangunan hutan produksi di Indonesia masih berorientasi pada hasil kayu; pengembangan hasil hutan non-kayu masih berputar pada “produk barang” seperti kayu putih, gondorukem, madu lebah dan lain-lain sementara “produk jasa” seperti “wisata hutan bunga” atau ruang terbuka hijau dengan pohon-pohon bunga sepertinya belum banyak dilirik. Jika selama ini Wanadesa mengandalkan pohon buah sebagai tanaman konservasi karena penanaman pohon buah mengurangi resiko pohon ditebang, maka pohon bunga ini bisa jadi satu alternatif jenis tanaman untuk konservasi. Memang, hasilnya akan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat dinikmati. Namun jika berhasil, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita akan memiliki taman-taman seindah taman-taman sakura di Jepang, dan kita akan merayakan "Hanami" untuk menikmati keindahan bunga-bunga lokal kita sendiri. Toh, disinipun kita sudah memiliki  "Merti Bumi". Semuanya tinggal bagaimana pelaksana kegiatan dilapangan, beranikah? (Ranti)

 



Post Terkait


Tinggalkan Komentar