Detail Post

Kemuning

12 Februari 2021 / Admin / , , / 14 Kali Dilihat / 0 Komentar

Tanaman ini merupakan salah satu kekayaan hayati botani di Indonesia, kemuning dikenal dengan beberapa nama lokal antara lain; kemuning (Jawa), kamuning (Sunda), kemoning (Bali), kamonèng (Manado, Makasar) kamoni (Pmn.), palopo (Bugis), eseki (Wetar), tanasa (Aru), kamoni (Ambon). Klasifikasi Taksonomi Secara taksonomis tanaman ini mempunyai susunan sebagai berikut: Ordo : Sapindales; Famili : Rutaceae; Genus : Muraya dan; Species : Muraya paniculata Ciri Morfologi Kemuning biasa tumbuh liar sebagai semak belukar di tepi hutan. Bisa juga dijadikan tanaman hias atau tanaman pagar. Kemuning dapat mencapai ketinggian hingga 12 m, namun rata-rata hanya tumbuh setinggi 2-3 m. Kemuning berhabitus semak atau pohon kecil, bercabang banyak, Batangnya keras dan beralur. Tanaman ini berbunga sepanjang tahun. Helaian anak daun bertangkai berseling, bentuk bulat telur sungsang atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata atau agak beringgit, panjang 2-7 cm, lebar 1-3 cm, permukaan licin mengkilap, warnanya hijau. Perbungaan terminal, majemuk, dan harum semerbak. Kelopak bunga memiliki panjang 12-18 mm, berwarna putih. Kelima kelopak bunga berbentuk bulat telur sampai lanset dengan panjang hingga dua mm. Buahnya berdaging, berbentuk bulat telur, berwarna merah sampai oranye dan berukuran hingga satu inci panjangnya. Pemanfaatan Pada saat ini banyak orang telah memanfaatkanya sebagai tanaman hias seperti bonsai. Tanaman ini memang mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai tanaman estetika yaitu sebagai tanaman hias maupun perindang dihalaman rumah, kantor, hotel. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perindang jalan. Hal ini disebabkan karena kemuning mempunyai habitus yang baik; ukuran batang tidak terlalu besar dengan ketinggian rata–rata 2 hingga 3 meter; tajuk yang rimbun; daun selalu hijau; buah kecil berwarna merah dan berbunga dengan aroma yang harum dengan bentuk yang indah. Selain berpotensi sebagai tanaman hias dan perindang, batang kemuning juga berpotensi untuk dipergunakan sebagai bahan pembuatan kerajinan produk kerajinan, antara lain, ukiran kayu, perabot rumah tangga seperti kotak tisu, tempat pensil, nampan, tatakan gelas dan juga untuk pembuatan warangka maupun pendok keris, pedang dan juga gagang pisau. Hal ini disebabkan karena kayu kemuning mempunyai sifat: bertekstur halus, serat lurus, kuat, warna kompak, padat dengan tingkat kekerasan yang sedang serta mudah dikerjakan. Pada saat ini tanaman kemuning termasuk sulit untuk ditemukan. Kelangkaan jumlah populasi kemuning ini dilatar belakangi oleh cerita mistis yang melingkupi kehidupanya. Pada waktu lampau kemuning dipercayai sebagai tempat tinggal favorit bagi makhluk halus. Bunganya yang berbau sangat harum pada saat mekar semakin memperkuat mitos ini. Pada akhirnya, hal ini menyebabkan kemuning cenderung tidak banyak dibudidayakan, bahkan dibiarkan begitu saja dan diharapkan untuk musnah dalam kehidupan ini. Keadaan ini membuat kemuning menjadi langka. Tanaman ini hanya ditemukan di tempat-tempat yang terpencil yang jarang dikunjungi manusia bahkan banyak yang dikeramatkan. Kemuning hidup terpencil sendiri, di tempat yang sepi. Untuk menyelamatkan kemuning dari kepunahan perlu dilakukan kampanye untuk mendorong agar lebih dikenal oleh masyarakat dan masyarakat tergerak untuk membudidayakan tanaman ini. Kita perlu juga menginformasikan berbagai potensi pemanfaatan kemuning. Potensi pemanfaatan yang sekarang mulai kelihatan adalah pemanfaatan sebagai tanaman hias dan perindang. Upaya lain yang tentunya perlu dilakukan adalah melestarikan tanaman yang masih ada dan akan lebih efekti jika tanaman ini dibudidayakan dalam sebuah kawasan perlindungn, di kawasan hutan konservasi maupun hutan lindung. Admin



Post Terkait


Tinggalkan Komentar