Detail Post

Menggali Inspirasi dari Keanekaragaman Hayati

16 November 2016 / Admin / , / 2507 Kali Dilihat / 0 Komentar

Menggali Inspirasi dari Keanekaragaman Hayati

 

            Alam menyediakan berbagai macam bahan yang dapat kita ambil manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari. Manfaat tersebut tidak hanya berupa bahan atau material yang dapat langsung kita konsumsi. Nenek moyang bangsa Indonesia yang sejak zaman dahulu telah memiliki peradaban yang luhur, sebenarnya telah banyak memberikan kita pelajaran yang berharga mengenai manfaat non-material dari alam ini. Salah satunya yaitu melalui nilai-nilai filosofi yang dapat direnungkan dari kekayaan alam yang berupa keanekaragaman hayati. Nilai-nilai filosofi yang diperoleh melalui perenungan dan penghayatan yang luar biasa dalam hidup seharusnya dapat juga kita pahami dan kita ambil kebaikan-kebaikannya.

            Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai jantung kebudayaan masyarakat Jawa yang telah berkembang sejak berabad-abad silam,  kita mengenal keanekaragaman hayati berupa tanaman-tanaman yang dianggap memiliki nilai filosofi yang mendalam yang telah diajarkan nenek moyang kepada kita. Beberapa diantaranya yaitu;

  1. Waringin/Beringin (Ficus benjamina L.)

Pohon Beringin, dengan tajuknya yang berbentuk payung dan buahnya yang berukuran kecil-kecil seringkali digunakan sebagai pohon peneduh. Karena keteduhannya, Beringin melambangkan pengayoman, keadilan dan sifat abadi. Pohon Beringin juga melambangkan "Manunggaling kawula Gusti" atau bersatunya manusia dengan Tuhannya yang memberikan hidup" atau dapat juga berarti "Bersatunya rakyat dengan pemimpinnya". Akar gantung pohon Beringin yang berupa akar napas yang menjuntai dari atas ke bawah melambangkan bahwa "Manusia harus selalu mengingat darimana asal-usulnya". Asal-usul ini dapat berupa tempat (dan kebudayaannya) ataupun asal-usul penciptaan manusia oleh Tuhan; bahwa manusia diciptakan Tuhan dari tanah dan suatu saat nanti akan kembali lagi menjad tanah. Beringin merupakan tanaman dari keluarga Ficus yang memiliki perakaran yang dapat menyimpan air, karena itu dapat digunakan sebaai tanaman konservasi air dengan ditanam di sekitar mata air/telaga.

  1. Tanjung (Mimusops elengi L.)

Dalam Prasasti Siwagrha (tahun 856 M) disebutkan bahwa di Pelataran Candi Prambanan sebelah timur, tumbuh Pohon Tanjung yang menjadi sarana tempat Dewata turun ke bumi. Turunnya Dewata ke bumi dapat dikatakan merupakan perlambang rahmat Tuhan yang sangat besar kepada manusia dan alam sehingga sudah selayaknya kita selalu memuji/mensyukuri (menyanjung) kebesaran rahmat Tuhan YME tersebut. Dengan nilai filosofinya yang terkait dengan Ketuhanan, Pohon Tanjung banyak ditanam di sekitar tempat ibadah.Pohon Tanjung memiliki tajuk yang cocok untuk dimanfaatkan sebagai peneduh. Hal ini melambangkan bahwa "Barangsiapa yang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan YME, maka akan memperoleh ketentraman/hatinya menjadi teduh". Bunga Tanjung sering digunakan sebagai pengharum ruangan. Kayu pohon Tanjung memiliki Kelas Kuat I dan Kelas Awet I-II dan pada umumnya dimanfaatkan untuk bahan pasak pembuatan perahu, gagang tombak dan perkakas lain, almari, mebel serta untuk tiang rumah.

  1. Gayam (Inocarpus fagifer (Parkinson ex Zollinger) Fosberg)

Kata gayam berasal dari kata "Nggayuh" yang berarti mencari atau meraih sesuatu. Kayu pohon Gayam melambangkan jiwa pendeta. Manusia yang memiliki jiwa pendeta merupakan manusia-manusia pilihan, yang telah mampu mengesampingkan hawa nafsu keduniawiannya untuk mencapai keutamaan hidup di jalan Tuhan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Pohon gayam melambangkan bahwa "Manusia harus mempunyai keinginan untuk mencapai/meraih keutamaan hidup".

Pohon Gayam bermanfaat untuk tanaman peneduh, tanaman konservasi air, buahnya dapat dikonsumsi dengan dimasak terlebih dahulu, kayunya dapat digunakan untuk mebel/perkakas.

  1. Sawo Kecik (Manilkara kauki)

Kata Sawo Kecik berasal dari kata "Sarwo besik" atau "Sarwo becik" yang berarti serba baik. Pohon Sawo Kecik sering ditanam di gerbang atau di halaman rumah yang melambangkan bahwa "Siapapun yang memasuki atau keluar dari rumah tersebut harus serba baik, baik niat ataupun perbuatannya". Pohon Sawo Kecik bermanfaat sebagai tanaman peneduh, perindang jalan; buahnya dapat dikonsumsi secara langsung, sedangkan kayunya dapat bermanfaat untuk bahan bangunan, perkakas/ perabot rumah tangga, alat- alat pertukangan dan juga benda-benda seni seperti patung, ukir-ukiran dan lain-lain. Pohon Sawo Kecik merupakan flora identitas Kabupaten Bantul.

  1. Asam Jawa (Tamrindus indica L.)

Asam berasal dari kata "Sengsem" yang berarti senyum atau "Kesengsem" yang berarti fokus. Daun Asam muda disebut juga "sinom anom" yang dapat diartikan "berjiwa muda". Kayu Asam yang sudah menjadi "Galih Asam" dapat lebih kuat daripada besi. Tidak seluruh bagian kayu ataupun seluruh Pohon Asam dapat menjadi "Galih", hanya pada bagian hati yang terletak jauh didalam bagian kayu. Dalam bahasa Jawa "Galih" dapat pula diartikan sebagai "Penggalih" atau "Olah rasa". Hal ini melambangkan bahwa "Cita-cita yang mulia hanya akan dapat dicapai oleh mereka yang mampu melakukan "olah rasa" dan bersungguh-sungguh (kesengsem/fokus) dalam mencapai tujuannya".

  1.  Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack)

Kemuning berasal dari kata "Hening" yang berarti tenang atau "Bening" yang berarti jernih. Pohon Kemuning melambangkan kesucian dan kejernihan dalam berpikir, bahwa "Orang harus selalu memiliki kejernihan hati dan juga pikiran dalam berbuat atau bertindak."

Suatu keputusan yang diambil dengan tanpa perhitungan atau pertimbangan yang matang atau pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa  tidak akan memberikan hasil yang baik, karena itulah diperlukan kejernihan hati dan pikiran agar tidak timbul dampak buruk ataupun penyesalan di kemudian hari.

  1. Keben (Barringtonia asiatica (L.) Kurz)

Keben berasal dari kata "Hangrungkebi jejering bebener" yang berarti merangkul kebenaran. Pohon Keben melambangkan bahwa "Manusia harus selalu menjunjung tinggi kebenaran dalam kehidupan sehari-hari". Pada tanggal 5 Juni 1986 atau pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Presiden Soeharto menetapkan Pohon Keben sebagai pohon simbol perdamaian.

  1. Kepel Watu (Stelechocarpus burahol Blume)

Berasal dari kata "Kepel" yang berarti genggaman tangan manusia atau "Greget" (niat) dalam bekerja. Watu berarti dasar. Pohon Kepel melambangkan "Manunggaling sedya kaliyan gegayuhan" yang berarti bersatunya niat dengan kerja. Pohon Kepel juga merupakan flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bunga Kepel

  1. Jambu Darsana (Syzygium malaccense (L.) Merr.)

Berasal dari kata "Sudarsana" yang berarti suri tauladan atau contoh yang baik. Dapat diartikan bahwa Pohon Jambu Darsana melambangkan kekuatan bagi raja atau pemimpin, yaitu bahwa "Raja atau pemimpin harus dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyat yang dipimpinnya". Pemimpin tidak hanya berarti Kepala Daerah. Pada instansi tertentu, Kepala Instansi juga merupakan seorang pemimpin; dalam lingkungan masyarakat terkecil, Ketua RW atau Ketua RT juga merupakan pemimpin; demikian pula di dalam keluarga, seorang Kepala Keluarga juga merupakan seorang pemimpin. Pada dasarnya setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap setiap yang dipimpinnya.

  1. Jambu Tamplok Arum (Syzygium jambos L. Alston)

Disebut juga Jambu Dompolan. Buahnya yang bergerombol melambangkan kerukunan, yaitu bahwa "Pemimpin harus dapat mempersatukan dan menjaga kerukunan masyarakat yang dipimpinnya". Untuk dapat menciptakan kerukunan dan mempersatukan masyarakat, maka seorang pemimpin harus adil, mampu memahami kebutuhan masyarakat serta mampu bertenggang-rasa terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

            Ternyata dari sepuluh jenis tanaman-tenaman tersebut diatas saja, terdapat begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Apalagi jika kita mau meggali dari jenis-jenis lain dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa, maka ada begitu banyak inspirasi yang dapat kita ambil dari alam sekitar kita, tinggal bagaimana apakah kita mau mempelajarinya atau tidak! (Ranti)



Post Terkait

BLH DIY Meluncurkan Profil Keanekaragaman Hayati DIY Tahun 2016

BLH DIY Meluncurkan Profil Kea...

BLH DIY Meluncurkan Profil Keanekaragaman Hayati DIY TAhun...

21 November 2016 / 0


Tinggalkan Komentar