Detail Post

PEMBINA LINGKUNGAN DARI PERBUKITAN MENOREH HINGGA PESISIR KULON PROGO

03 Oktober 2017 / Admin / / 250 Kali Dilihat / 0 Komentar

Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kawasan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki bentang alam yang tersusun dari ekosistem dataran tinggi hingga pesisir. Keanekaragaman tipe ekosistem tersebut akan menghadirkan potensi akan sumber daya alam baik biotik (hayati) maupun abiotik (air, udara, mineral, dll). Interaksi di antara komponen biotik dan abiotik yang baik menjadi kunci kesuksesan untuk kondisi lingkungan yang lestari dan berkelanjutan (sustainable). Sadar akan kekayaan potensi tersebut, masyarakat Kulon Progo dapat menjadi layaknya pisau yang bermata dua di antara terciptanya sebuah harmonisasi dengan lingkungan yang baik atau terjadinya degradasi lingkungan yang dapat menimbulkan kebencanaan. Oleh karena itu, pembinaan lingkungan di Kulon Progo sangat diperlukan untuk dapat menjaga keutuhan alam dan memanfaatkannya dengan baik sehingga akan terjaga kelestariannya.

Saptono Tanjung, bermarga Sumatra beradopsikan nama Jawa, telah dibesarkan dalam lingkungan Kulon Progo yang dahulunya sangat minim air untuk kesehariannya. Berawal dari keinginannya untuk membalas budi dan keprihatinan dengan banyaknya degradasi lingkungan di Kulon Progo, beliau menimba ilmu sebanyak mungkin dan memulai pembinaan lingkungan hidup di tahun 1999.

Pembinaan lingkungan hidup berawal dengan membina masyarakat penggarap hutan Negara untuk penyelamatan hutan yang dimulai pada tahun 1999 hingga tahun 2014. Latar belakang pembinaan ini muncul karena keprihatinan atas kondisi kritis hutan Negara yang berbanding terbalik dengan suburnya hutan masyarakat. Pembinaan dilakukan mulai dari pendampingan penguatan kelembagaan pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm), memfasilitasi pelatihan kelembagaan masyakarakat, memfasilitasi pembentukan dan pengembangan kelompok (KTH – KSU), memfasilitasi studi banding anggota ke daerah lain yang sama dalam pengelolaan Hutan Negara dan berbagai macam inovasi-inovasi yang telah dilakukan dalam pembinaan lingkungan. Pembinaan lingkungan hidup dilakukan secara temporer sesuai dengan kebutuhan kelompok untuk dapat menciptakan kemandirian dari kelompok pengelola hutan sehingga merubah sifat dari fasilitasi menjadi konsultansi.

Pada tahun 2003, Waduk Sermo mengalami kerusakan green belt dan adanya peningkatan sedimentasi. Waduk Sermo merupakan sumber air yang sangat penting di kawasan Kulon Progo, kondisi green belt akan berpengaruh terhadap konservasi air dan laju sedimentasi. Umur Waduk Sermo akan bergantung pada cepat atau lambatnya sedimentasi yang terjadi. Pentingnya perbaikan green belt, Saptono Tanjung melibatkan instansi terkait untuk melakukan pendampingan terhadap warga sekitar Waduk Sermo  membentuk Forum Komunitas Waduk Sermo (FKWS). Forum tersebut memiliki tujuan untuk dapat memperkuat kelembagaan dan menyusun aturan dalam memanfaatkan green belt dan melestarikan Waduk Sermo yang saat ini diatur dalam PERGUB No. 9 Tahun 2009. Potensi Waduk Sermo tidak hanya pada pemanfaatan sumber airnya saja, namun juga memiliki daya tarik wisatawan. Memiliki panorama yang indah tentu saja akan menarik wisatawan untuk datang berkunjung. Pendampingan yang dilakukan juga dilakukan dengan membina masyarakat dan menguatkan kelembagaan sehingga terbentuk kelompok – kelompok yang meliputi kelompok konservasi, kelompok warung, kelompok koperasi dan kelompok perikanan untuk menyiapkan kelembagaan yang dapat melakukan kemitraan dengan pihak pengelola Waduk Sermo.

Pada tahun 2008, bekerjasama dengan Yayasan Damar, UNDP, BPSDA Sermo dan GNKPA untuk dapat mengembalikan kondisi Hargotirto sebagai gunung penyimpan air yang dapat menyangga kehidupan. Kegiatan yang dilakukan meliputi peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal kebencanaan, penanaman kakao dan tanaman buah lainnya, pembuatan embung secara partisipatif dalam mengantisipasi kekeringan, pembuatan talud untuk mencegah kelongsoran, menghidupkan kembali belik – belik atau sumber mata air  serta pemeliharaan sungai untuk tidak tercemar dan berkelanjutan. Pendampingan yang dilakukan juga memfasilitasi pencegahan bencana alam masyarakat desa khususnya sekitar perbukitan Menoreh selatan dan pesisir Kulon Progo. Pendampingan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam memahami ancaman yang dapat timbul dari alam sehingga masyarakat tersebut dapat dengan bijak dalam memanfaakan dan melestarikannya.

Pendampingan dan pembinaan tidak hanya pada masyarakat perbukitan Menoreh, sadar akan bentang alam Kulon Progo yang beragam, Saptono Tanjung melakukan pendampingan terhadap kelompok pelestari mangrove dan pesisir Wana Tirta pada tahun 2010. Kelompok Wana Tirta sadar bahwa kehidupan di pesisir tentu saja memiliki ancaman baik dalam skala kecil maupun besar yang dapat terjadi setiap saat. Berangkat dengan kesadaran yang sama Saptono Tanjung bersama Yayasan Damar beserta instansi terkait melakukan pendampingan terhadap Kelompok Wanatirta.  Proses penghijauan pesisir dengan mangrove tentu saja mengalami banyak kendala terutama dari kecil prosentase kehidupan dari mangrove tersebut. Kerja keras dan kegigihan warga dan dukungan instansi terkait telah membuahkan hasil pada tahun 2012 dan hingga kini Desa Jangkaran telah memiliki mangrove dengan luas sekitar 20 Ha. Hadirnya ekosistem mangrove yang sehat tentu saja akan menjadi habitat bagi banyak satwa yang tentu saja akan menarik perhatian bagi warga untuk dapat melestarikannya. Kini Desa Jangkaran telah menjadi pusat ekowisata pesisir Kulon Progo yang membawa tujuan untuk dapat mengedukasi masyarakat dari usia dini hingga dewasa untuk dapat melestarikan alam khususnya Mangrove.

Melestarikan lingkungan membutuhkan niat, usaha dan ketulusan yang tidak pernah putus. Usaha pembinaan dan pendampingan Saptono Tanjung tidak memiliki tujuan lain selain menyelamatkan lingkungan, menyejahterakan masyarakat Kulon Progo, menciptakan keberlanjutan dan tak kalah penting adalah edukasi di usia dini yang akan membentuk pribadi – pribadi yang memiliki rasa cinta dan kesadaran dalam melestarikan lingkungan untuk kini dan masa depan.



Post Terkait

Adopsi Pohon Wanadesa

Adopsi Pohon Wanadesa...

Adopsi Pohon Wanadesa   Wanadesa adalah upaya konservasi...

12 April 2018 / 0

Habitat Alami sebagai Solusi Kepunahan Spesies

Habitat Alami sebagai Solusi K...

Habitat Alami sebagai Solusi Kepunahan Spesies Oleh: Subbid...

03 Oktober 2017 / 0


Tinggalkan Komentar