Detail Post

Zoonosis dan Satwa Liar

21 September 2020 / Admin / , , , / 9 Kali Dilihat / 0 Komentar

Sejak Desember 2019 yang lalu, dunia dihebohkan dengan merebaknya sejenis penyakit baru yang disebut dengan novel coronavirus atau covid-19. Penyakit yang pertama-tama merebak di kota Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok ini, dicurigai ditularkan dari satwa atau yang disebut sebagai penyakit zoonosis. Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menginfeksi baik hewan dan manusia. Menurut data WWF, lebih dari 70% penyakit menular akibat zoonosis ditularkan melalui interaksi dengan satwa liar. Beberapa zoonosis yang ditularkan melalui interaksi manusia dengan satwa liar, diantaranya; # Covid-19 atau corona, diperkirakan ditularkan melalui kelelawar, ular kobra atau trenggiling; # Ebola, diperkirakan ditularkan lewat kelelawar; # MERS, diperkirakan ditularkan lewat unta; # SARS, diperkirakan ditularkan lewat kelelawar; # Monkeypox, diperkirakan ditularkan lewat monyet dan tikus; Salah satu satwa yang dianggap paling banyak menularkan penyakit kepada manusia adalah kelelawar. Merebaknya covid-19 yang dimulai di Tiongkok, juga membuat masyarakat mengingat kembali peran kelelawar sebagai satwa yang dianggap menularkan zoonosis tersebut. Kelelawar sendiri diketahui merupakan vector dari 137 penyakit, diantaranya, covid-19, SARS, marburg, rabies dan lain-lain. Namun, bagaimana sebenarnya? Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang bisa terbang. Di Indonesia terdapat dua sub-ordo kelelawar, yaitu: 1) Megachiroptera, (kelelawar pemakan buah, daun, nectar dan serbuk sari), dengan 1 famili, 41 genus dan 163 spesies; 2) Microchiroptera, (sebagian besar pemakan serangga, hanya sedikit yang merupakan pemakan buah dan nectar), dengan 17 famili, 147 genus dan 814 spesies; Meskipun dapat menularkan berbagai penyakit (meski tentunya tidak semua kelelawar berpenyakit), kelelawar memiliki banyak sekali manfaat, diantaranya; # Sebagai pengendali hama pertanian, terutama kelelawar pemakan serangga; # Sebagai agen penyerbukan; # Sebagai penyubur tanah. Guano atau kotoran kelelawar merupakan salah satu bahan pembuat pupuk terbaik di dunia. Mengapa dapat terjadi penularan penyakit dari satwa (liar) ke manusia? Beberapa faktor yang memicu zoonosis satwa liar, di antaranya: # Perambahan habitat satwa liar oleh manusia, baik untuk pemukiman ataupun pertanian; # Perburuan liar dan perdagangan illegal satwa liar; Lantas, bagaimana kita dapat melakukan pencegahan penularan penyakit dari satwa liar ke manusia? # Penegakkan hukum lingkungan secara tegas (misal UU No. 5 tahun 1990; UU No. 41 Tahun 1999; UU No. 32 Tahun 2009, dll); # Tidak menjadikan satwa liar sebagai peliharaan; # Tidak mengkonsumsi satwa liar; # Edukasi terus-menerus kepada masyarakat tentang pelestarian lingkungan; # Mitigasi, pengamatan dan penelitian terus-menerus untuk mengantisipasi munculnya zoonosis-zoonosis baru; Jadi, ketika ada wacana memusnahkan kelelawar (atau satwa liar lain) karena ketakutan manusia akan zoonosis, semestinya bukan satwanya yang harus dimusnahkan, melainkan manusianyalah yang mestinya membatasi perambahan habitat dan interaksi dengan kelelawar (dan satwa liar lainnya). Betul begitu khan, teman-teman?



Post Terkait


Tinggalkan Komentar